Bermain Jamuran
Masa kecil sangatlah menyenangkan, jauh dari kata pusing memikirkan kehidupan. sehari-hari hanya dihabiskan dengan hal-hal yang sederhana. dari mulai bangun tidur tidak mungkin memikirkan hari ini makan apa, bisa makan apa tidak, yang dipikirkan setelah tidur yaa mandi, sarapan tiba-tiba sudah ada di meja makan, tidak memikirkan "makanan yang ada itu dari mana" ya, pokoknya yang kita tahu makanan sudah siap. Setelah selesai semua dari mandi, ganti baju sekolah, makan pagi, biasanya kita yang ganti menunggu bapak atau ibu kita siap-siap untuk mengantarkan kita ke sekolah, biasanya juga ada yang tidak mau diantar karena sudah malu. Sesampai di sekolah bertemu dengan teman sekelas, asyik bermain sembari menunggu bel masuk berbunyi.
Setelah seharian belajar di sekolah, waktu sore inilah biasanya waktu yang ditunggu-oleh anak-anak di desa, mereka bergerombolan untuk bermain dengan teman sekampung, dipelataran rumah yang luas, udara sore hari di desa yang semilir, sangat alami, banyak pepohonan disekililing, disuatu ketika pohon-pohon itu bisa kita manfaatnya untuk bermain puk-pukan (petak umpet). Aahh aku rindu dengan suasana itu, suasanya dimana aku dan teman-teman berlarian di pelataran yang luas depan rumah orang tuaku, ada banyak hal saat itu kita mainkan, selain puk-pukan, kita juga sering bermain Jamuran " jamuran do gegetan siro mbedhek jamu opo?!?" jaaaa..jaaamuuur barat! ". begitulah potongan lirik lagu Jamuran di desaku. Cara main jamuran mungkin disetiap wilayah berbeda-beda, kalau di desaku seperti ini, 1. pemain terdiri dari 5 - 6 anak-anak; 2. setiap satu kaki dikaitkan satu sama lain dan menghadap saling berlawanan sampai 5-6 anaka membentuk lingkaran; 3 setelah membuat lingkaran dengan kaki yang saling terkait, lalu mulai loncat-loncat kecit dan sambil berputar dengan menyanyikan lagu " jamuran do gegetan siro mbedhek jamu opo?!?" jaaaa..jaaamuuur barat! " (jamuran pada rame-rame, kamu menebak jamur apa? sambil menunjuk salah satu pemain). Yaaecch begitulah, hingga saat ini pikiranku terbayang-bayang dengan jelas cara bermainnya, lagunya, teman-teman yang bermain, suasana di sore hari saat itu.
Pastinya anak-anak 90-an kangen dengan masa-masa itu, yang zaman sekarang sangat langka ditemui, sekalipun di kampung halaman kita. Apalagi anak - anak mileneal yang sukanya merantau ke kota untuk mengadu nasib, pastilah sangat kangen dengan kampung halaman dan masa-masa bermain dengan alat-alat dan cara tradisional seperti itu, termasuk Jamuran, kita bisa bersuka cita bernyanyi dan loncat-loncat ria, entah itu suara fals atau tidak yang jelas saat itu kita bahagia. Pastilah ingat bel tanda berakhirnya permainan tradisonal itu adzan magrib. Naah setiap sudah mendengar adzan magrib dengan sendirinya teman-teman kita langsung bubar berhamburan untuk pulang karena mendengar adzan magrib, itu artinya memang sudah malam dan waktunya pulang.
Ending: Mungkin cara bermainnya setiap wilayah di Indonesia berbeda-beda, yang aku ceritain diatas bermain jamuran dari daerahku di Blora Jawa Tengah, di Blora pun kemungkingan cara bermainnya berbeda, liriknya berbeda. Aku sangat bangga bisa menikmati indahnya masa kecil di desa.

No comments:
Post a Comment