Thursday, March 28, 2019

Membuat Mobil dari Kaleng Bekas

Bermain Mobil dari Kaleng Bekas

Mobil-mobilan bisa dikatakan mainan yang paling disuka oleh anak kecil, tidka hanya anak masa kini, anak di masa lalu atau sering disebut anak 90-an juga senang jika bermain mobil-mobilan khususnya anak laki-laki. Namun bedanya jika anak zaman sekarang bermain mobil-mobilan buatan pabrik, yang menyerupai mobil aslinya, lebih menarik dan menggunakan remote control. Kali ini marilah kita ingat-ingat untuk membuat mainan mobil-mobilan sendiri.

Untuk bahannya yang mudah dicari disekitar rumah, tidak memerlukan biaya, karena untuk bermainan tidak harus keluar biaya. Cukup siapkan kaleng susu bekas, bambu, tali (rafia, atau karet ban), sandal jepit bekas.

 Caranya, potong bambu dan bentuklah dadu memanjang, diameter 20 cm dan panjang 100 cm, buatlah satu buah saja, kemudian belah bambu lain dan potong dadu memanjang diameter 10 cm dan panjang 30 cm dan buat sebanyak 7 buah, setelah bambu sudah dipotong , lalu siapkan sandal jepit bekas kemudian potong melingkar menyerupai roda mobil, diameter 20 cm, buatlah roda menggunakn sandal jepit bekas sebanyak 4 buah. Kemudian dirangkai dan tali menggunakan tali yang sudah disiapkan sebelumnya, bisa menggunkan tali rafia ataupun tali karet ban, lihatlah  gambar disamping.

Mobil-mobilan dari bahan-bahan bekas da mudah didapatkan siap dimainkan dengan teman-teman


Wednesday, March 27, 2019

Cara Membuat Gasing

Cara Membuat Gasingan

Masa kecil memang sangat menyenangkan, apalagi diisi dengan hal-hal yang bermanfaat dan berguna. Misalnya permaina yang tidak hanya mengisi kesibukan namun juga permainan yang menumbuhkan kreatifitas dan meningkatkan sosialisasi dengan teman sebaya.

Masa kecil di era modern ini khususnya tahun 2000-an mungkin jauh berbeda dengan masa kecil anak tahun 90-an, jika anak zaman sekarang lebih banyak bermain permainan yang mengurangi ide-ode dan kreatifitas, karena permainan modern seringkali permainan bisa dimainkan dengan duduk dan tiduran, yaitu gadget. Berbeda dengan masa kecil anak 90-an, pastilah jika ingin bermain mau tidak mau harus mencari, bahkan harus membuat sendiri baik dari bahan-bahan yang ada di alam sekitar maupun hasil recycle barang bekas, hal tersebut yang membedakan anak 200-an dengan anak 90-an. Jikan anak 2000-an ingin bermain tinggal mengambil gadget dan membuka lalu memainkan apa saja sudah tersedia, namun anak 90-an harus mencari dulu bahkan membuat dengan proses yang panjang, diperlukan kreatifitas dan ide-ide sehingga lebih mengaktifkan psikomotorik anak, misalnya ingin bermain Gasing, jika anak 2000-an ingin bermain gasing makan tinggal membuka gadget lalu dimainkan secara online, jika belum ada di gadget bisa dengan mudah mengunduh di Appstore maupun Google store. Anak 90-an ingin bermain Gasing maka harus membuatnya terlebih dahulu.

Jika masih ingat, bahan apa saja yang harus di cari dan disiapkan untuk membuat Gasingan, yaitu meliputi:
1. 1 batang Kayu Asem
2. Pisau
3. Alat Pahat
4. Benang Nilon 
5. Pecahan Piring / Kaca

Setelah disiapkan bahan-bahan dan alat diatas, langkah selanjutnya yaitu membuat Gasingannya langkah pertama, kayu asem di kupas kulit luar sehingga didapatkan kayu dengan warna putih (kulit luar dibuang), kemudian kayu di potong sepanjang 20 cm, setelah di potong dan dikupas kulit luar, kayu di bentuk seperti gentong, setelah dibentuk seperti gentong lalu haluskan menggunakan pecahan piring / kaca, yaitu dengan cara menggosoknya. Setelah halus gasing siap dimainkan.


Wednesday, March 20, 2019

Bermain Tembakan

Tembakan Batang Pisang


Dalam bahasa jawa khususnya daerah Blora, Tembak berarti "Bedhil" jadi Tembakan ya "Bedhilan", begitulah penyebutan anak desa untuk alat yang biasa digunakan Bapak Polisi dan Tentara ini. Jauh dari kata modern seperti yang orang-orang pikirkan, Bedhil yang dipakai anak-anak kali ini terbuat dari batang pisang yang dirakit menyerupai tembak laras panjang, maupun laras pendek. 

Cara pembuatannya sangat sederhana, adapun alat dan bahan yang harus disiapkan yaitu:
1. Pisau atau Cutter
2. Lidi 
3. Batang pisang
Hanya tiga hal tersebut diatas kita bisa membuat permainan yang sangat menyenangkan.

Cara merangkai, ambillah 3 batang daun pisang, bersihkan daunnya menggunakan pisau atau cutter, sehingga didapatkan batang yang sudah halus, setelah dibersihkan daun dari batangnya, selanjutnya ambil satu batang pisang yang paling besar, diameter berkisar 10cm, yang nantinya akan kita jadikan Laras senapan dan pegangan. potong batang tersebut kira-kira 80cm, lubangi batang tersebut dengan dua lubang, jarak lubang 30cm antara lubang lainnya. Kemudian ambil kembali batang pisang yang ukurannya lebih kecil dari yang pertama, potong sepanjang 50cm, yang nantinya akan dijadikan pegangan, kemudian dibengkokkan dan dimasukan ke lubang batang pertama. Untuk menambah aksesoris silahkan ambil batang ketigas yang ukurannya lebih kecil dari batang pertama dan kedua, potonglah sepanjang 40cm dan tusuk dengan lidi dan tancapkan ke batang pertama untuk membuat teleskop, bisa juga ditambahi dibawah untuk membuat pompa. Nah, Bedhil siap digunakan permainan dengan teman-teman.

Lebih menarik lagi membuat Bedhilan bersama teman-teman, buatlah bedhilan 5 - 6 pucuk laras panjang dan 3 bedhil laras pendek, lalu bermainlah dengan teman-teman. cara bermain, silahkan dibagi menjadi dua tim, Tim A dan Tim B,setiap tim terdiri dari 4 -5 orang, dan buat skenario sederhana. 

Tim A menjadi kelompok pemberantas kejahatan yang akan memburu Tim B yang menjadi kelompok kriminal, bisa dimainkan dengan bergantian setiap Timnya. Lokasi bermain carilah lokasi yang masih banyak pepohonan, yang gunanya untuk mengumpat dari masing-masing anggota Tim agar tidak ketahuan oleh Tim lain. Permainan Bedhilan seperti ini bisa menumbuhkan kreatifitas, saling menghormati, dan menumbuhkan rasa keakraban.


Tuesday, March 19, 2019

Bermain Jamuran

Bermain Jamuran


Masa kecil sangatlah menyenangkan, jauh dari kata pusing memikirkan kehidupan. sehari-hari hanya dihabiskan dengan hal-hal yang sederhana. dari mulai bangun tidur tidak mungkin memikirkan hari ini makan apa, bisa makan apa tidak, yang dipikirkan setelah tidur yaa mandi, sarapan tiba-tiba sudah ada di meja makan, tidak memikirkan "makanan yang ada itu dari mana"  ya, pokoknya yang kita tahu makanan sudah siap. Setelah selesai semua dari mandi, ganti baju sekolah, makan pagi, biasanya kita yang ganti menunggu bapak atau ibu kita siap-siap untuk mengantarkan kita ke sekolah, biasanya juga ada yang tidak mau diantar karena sudah malu. Sesampai di sekolah bertemu dengan teman sekelas, asyik bermain sembari menunggu bel masuk berbunyi.
       
Setelah seharian belajar di sekolah, waktu sore inilah biasanya waktu yang ditunggu-oleh anak-anak di desa, mereka bergerombolan untuk bermain dengan teman sekampung, dipelataran rumah yang luas, udara sore hari di desa yang semilir, sangat alami, banyak pepohonan disekililing, disuatu ketika pohon-pohon itu bisa kita manfaatnya untuk bermain puk-pukan (petak umpet). Aahh aku rindu dengan suasana itu, suasanya dimana aku dan teman-teman berlarian di pelataran yang luas depan rumah orang tuaku, ada banyak hal saat itu kita mainkan, selain puk-pukan, kita juga sering bermain Jamuran " jamuran do gegetan siro mbedhek jamu opo?!?" jaaaa..jaaamuuur barat! ". begitulah potongan lirik lagu Jamuran di desaku. Cara main jamuran mungkin disetiap wilayah berbeda-beda, kalau di desaku seperti ini, 1. pemain terdiri dari 5 - 6 anak-anak; 2. setiap satu kaki dikaitkan satu sama lain dan menghadap saling berlawanan sampai 5-6 anaka membentuk lingkaran; 3 setelah membuat lingkaran dengan kaki yang saling terkait, lalu mulai loncat-loncat kecit dan sambil berputar dengan menyanyikan lagu " jamuran do gegetan siro mbedhek jamu opo?!?" jaaaa..jaaamuuur barat! " (jamuran pada rame-rame, kamu menebak jamur apa? sambil menunjuk salah satu pemain). Yaaecch begitulah, hingga saat ini pikiranku terbayang-bayang dengan jelas cara bermainnya, lagunya, teman-teman yang bermain, suasana di sore hari saat itu.


Pastinya anak-anak 90-an kangen dengan masa-masa itu, yang zaman sekarang sangat langka ditemui, sekalipun di kampung halaman kita. Apalagi anak - anak mileneal yang sukanya merantau ke kota untuk mengadu nasib, pastilah sangat kangen dengan kampung halaman dan masa-masa bermain dengan alat-alat dan cara tradisional seperti itu, termasuk Jamuran, kita bisa bersuka cita bernyanyi dan loncat-loncat ria, entah itu suara fals atau tidak yang jelas saat itu kita bahagia. Pastilah ingat bel tanda berakhirnya permainan tradisonal itu adzan magrib. Naah setiap sudah mendengar adzan magrib dengan sendirinya teman-teman kita langsung bubar berhamburan untuk pulang karena mendengar adzan magrib, itu artinya memang sudah malam dan waktunya pulang.


Ending: Mungkin cara bermainnya setiap wilayah di Indonesia berbeda-beda, yang aku ceritain diatas bermain jamuran dari daerahku di Blora Jawa Tengah, di Blora  pun kemungkingan cara bermainnya berbeda, liriknya berbeda. Aku sangat bangga bisa menikmati indahnya masa kecil di desa.